Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

TINGKAT PEMBELAJARAN MANUSIA DARI KESALAHAN

Kesalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tidak ada manusia yang sepenuhnya terbebas dari kesalahan. Namun, yang membedakan seseorang bukanlah ada atau tidaknya kesalahan, melainkan bagaimana ia merespons, mengevaluasi, dan mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.

Dalam perspektif psikologi pembelajaran, pengalaman dapat menjadi sumber perkembangan apabila seseorang mampu merefleksikan apa yang terjadi, mengidentifikasi penyebab, menerima umpan balik, memahami konsekuensi, dan mengubah perilakunya. Sebaliknya, kebiasaan menyangkal kesalahan, menyalahkan orang lain, atau menolak tanggung jawab dapat menghambat proses pembelajaran dan meningkatkan kemungkinan terulangnya kesalahan yang sama.

Karena itu, kesalahan tidak selalu berarti kegagalan. Kesalahan dapat menjadi sumber informasi dan pembelajaran apabila dievaluasi secara tepat. Sebaliknya, kesalahan yang tidak direfleksikan hanya akan menjadi pengalaman yang berulang tanpa menghasilkan perubahan.

Kemampuan belajar dari kesalahan juga tidak berada pada tingkat yang sama. Seseorang mungkin belum mampu menyadari kesalahannya, sementara yang lain telah mampu mengakui dan memperbaiki kesalahan sendiri. Pada tingkat yang lebih tinggi, seseorang mampu belajar dari konsekuensi dan pengalaman orang lain tanpa harus mengalami kesalahan yang sama. Pada tingkat berikutnya, pengalaman tersebut dapat digunakan untuk mengantisipasi kesalahan, membentuk pemahaman, dan menghasilkan hikmah yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Berdasarkan sintesis konseptual dari experiential learning, reflective practice, dan social learning, proses pembelajaran manusia dari kesalahan dalam tulisan ini dikembangkan ke dalam suatu model sembilan tingkat. Model ini merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan perkembangan kemampuan seseorang dalam merespons, mengevaluasi, dan mengambil pelajaran dari kesalahan.

Tahapan Proses tersebut dapat dirumuskan sebagai:

Tidak menyadari → Menyalahkan → Menyadari → Belajar dari kesalahan → Bertanggung jawab → Belajar dari orang lain → Mengantisipasi → Mengambil hikmah → Menjadi sumber hikmah.

Berdasarkan kerangka tersebut, berikut adalah sembilan tingkat pembelajaran manusia dari kesalahan.

Level 1 — Tidak Menyadari Kesalahan

Tingkat pertama merupakan kondisi ketika seseorang tidak menyadari atau tidak mampu melihat bahwa dirinya melakukan kesalahan.

Pada kondisi ini, seseorang belum melakukan proses evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Ia mungkin merasa bahwa keputusan yang diambil sudah benar, meskipun terdapat konsekuensi atau bukti yang menunjukkan sebaliknya.

Permasalahan utama pada level ini bukan sekadar kesalahan, melainkan ketiadaan kesadaran terhadap kesalahan. Tanpa kesadaran, proses pembelajaran tidak dapat dimulai. Seseorang tidak akan mencari penyebab, tidak menerima umpan balik, dan tidak memiliki alasan untuk mengubah perilaku.


Level 2 — Menyalahkan Orang Lain

Pada tingkat kedua, seseorang mulai menyadari adanya masalah atau konsekuensi, tetapi tidak bersedia menghubungkannya dengan dirinya sendiri.

Ketika terjadi kegagalan, respons yang muncul adalah mencari pihak yang dapat disalahkan.

"Saya gagal karena dia."

"Ini terjadi karena keadaan."

"Kalau orang lain bekerja dengan benar, masalah ini tidak akan terjadi."

Sikap seperti ini dapat dipahami sebagai bentuk externalization of blame, yaitu kecenderungan mengatribusikan penyebab masalah kepada faktor eksternal. Dalam jangka pendek, menyalahkan orang lain dapat memberikan perlindungan psikologis karena seseorang tidak perlu menghadapi ketidaknyamanan akibat mengakui kesalahan. Namun, dalam jangka panjang, perilaku tersebut dapat menghambat pembelajaran.

Ketika seluruh penyebab kesalahan selalu ditempatkan di luar dirinya, seseorang tidak menemukan bagian yang dapat diperbaiki dari dirinya sendiri. Akibatnya, kesalahan yang sama memiliki kemungkinan untuk terulang.


Level 3 — Menyadari Kesalahan

Pada level ketiga mulai terjadi perubahan penting. Seseorang mampu mengatakan:

"Saya melakukan kesalahan."

Pengakuan tersebut merupakan titik awal dari pembelajaran yang sesungguhnya. Menyadari kesalahan berarti seseorang mulai melakukan evaluasi terhadap tindakan, keputusan, atau perilakunya. Ia mulai membandingkan antara apa yang diharapkan dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Kesadaran tersebut memungkinkan munculnya pertanyaan:

Apa yang saya lakukan?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Di bagian mana keputusan saya keliru?

Mengapa kesalahan tersebut terjadi?

Apa yang seharusnya saya lakukan secara berbeda?

Kemampuan untuk mengajukan pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa seseorang mulai berpindah dari reaksi emosional menuju refleksi. Namun, menyadari kesalahan saja belum cukup. Kesadaran harus dilanjutkan dengan proses pembelajaran.


Level 4 — Belajar dari Kesalahan Sendiri

Pada level keempat, seseorang tidak berhenti pada pengakuan bahwa dirinya salah, tetapi mulai mencari pelajaran dari kesalahan tersebut. Ia tidak lagi hanya berkata:

"Saya salah."

Tetapi mulai bertanya:

"Mengapa saya salah dan apa yang harus saya lakukan agar tidak mengulanginya?"

Dalam psikologi pembelajaran, proses ini berkaitan erat dengan reflective learning, yaitu proses menggunakan pengalaman sebagai bahan untuk mengevaluasi pemikiran dan perilaku. Seseorang melakukan analisis terhadap:

Tindakan → Kesalahan → Penyebab → Konsekuensi → Pembelajaran → Perbaikan.

Di sinilah kesalahan mulai berubah fungsi. Kesalahan tidak lagi sekadar menjadi sesuatu yang harus disesali, tetapi menjadi sumber informasi untuk meningkatkan kualitas keputusan di masa depan. Orang yang berada pada level ini mungkin pernah gagal, tetapi kegagalannya menghasilkan perubahan. Ia menjadi lebih berhati-hati, lebih terukur, lebih memahami risiko, dan lebih mampu mengambil keputusan berdasarkan pengalaman.


Level 5 — Belajar dari Konsekuensi

Level kelima lebih tinggi daripada sekadar mengetahui kesalahan. Seseorang mulai memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensi. Ia menyadari bahwa setiap keputusan memiliki akibat dan bahwa menerima konsekuensi merupakan bagian dari tanggung jawab. Pada tahap ini, seseorang tidak hanya bertanya:

"Apakah keputusan saya salah?"

tetapi juga:

"Apa akibat dari keputusan saya dan apa tanggung jawab saya terhadap akibat tersebut?"

Kemampuan menerima konsekuensi merupakan bagian penting dari accountability. Orang yang bertanggung jawab tidak selalu berusaha menghindari konsekuensi dari tindakannya. Ia berusaha memahami konsekuensi tersebut dan menggunakannya sebagai bahan evaluasi.

Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih lengkap:

Saya melakukan sesuatu → muncul konsekuensi → saya menerima konsekuensi → saya memahami penyebabnya → saya memperbaiki keputusan berikutnya.

Pada tingkat ini, seseorang mulai memahami bahwa kedewasaan bukan hanya kemampuan memperoleh hasil, tetapi juga kemampuan bertanggung jawab terhadap akibat dari pilihan yang dibuat.


Level 6 — Belajar dari Kesalahan Orang Lain

Level keenam menunjukkan tingkat pembelajaran yang lebih tinggi. Seseorang tidak harus mengalami sendiri setiap kesalahan untuk mendapatkan pelajaran. Ia mampu mengamati pengalaman orang lain, memahami sebab-akibatnya, kemudian mengambil pelajaran untuk dirinya sendiri.

Konsep ini memiliki hubungan dengan observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan. Dalam teori pembelajaran sosial, manusia dapat memperoleh pengetahuan mengenai perilaku dan konsekuensinya melalui pengamatan terhadap pengalaman orang lain.

Contohnya sederhana. Seseorang melihat orang lain mengambil keputusan keuangan yang tidak terukur dan kemudian mengalami kesulitan finansial.

Ada dua kemungkinan respons.

Orang pertama berkata: "Saya juga harus mengalami sendiri supaya tahu."

Sementara orang kedua berpikir: "Saya tidak perlu mengalami kerugian yang sama untuk memahami bahwa keputusan tersebut memiliki risiko."

Perbedaan tersebut menunjukkan tingkat kematangan dalam belajar.

Orang bijak tidak harus mengalami seluruh kesalahan dalam hidupnya. Ia dapat menggunakan pengalaman orang lain sebagai laboratorium pembelajaran. Dengan demikian, semakin tinggi kemampuan seseorang dalam belajar, semakin sedikit pengalaman buruk yang harus ia alami sendiri untuk memperoleh pemahaman.


Level 7 — Mencegah Kesalahan Sebelum Terjadi

Pada level ketujuh, pembelajaran tidak lagi hanya bersifat reaktif, tetapi mulai menjadi proaktif. Seseorang tidak menunggu kesalahan terjadi untuk kemudian belajar. Ia menggunakan pengalaman masa lalu, data, informasi, dan pengalaman orang lain untuk memperkirakan kemungkinan risiko sebelum mengambil keputusan. Pertanyaan yang muncul berubah menjadi:

"Jika saya mengambil keputusan ini, apa yang mungkin terjadi?"

Kemampuan tersebut berkaitan dengan anticipatory thinking, yaitu kemampuan mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin muncul sebelum suatu tindakan dilakukan.

Pada tahap ini, seseorang mulai melakukan:

Identifikasi risiko → Analisis kemungkinan → Mempertimbangkan konsekuensi → Menentukan tindakan pencegahan → Mengambil keputusan.

Inilah salah satu ciri penting kematangan berpikir. Orang yang masih belajar dari kesalahan harus menunggu kesalahan terjadi. Orang yang lebih matang dapat mendeteksi potensi kesalahan sebelum kesalahan tersebut menjadi kenyataan.


Level 8 — Mengubah Pengalaman Menjadi Hikmah

Level kedelapan merupakan tahap ketika pengalaman tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan. Pada tahap ini, seseorang mampu melihat pola di balik berbagai pengalaman. Ia tidak lagi hanya mengingat:

"Dulu saya pernah gagal."

Tetapi memahami:

"Saya memahami mengapa kegagalan itu terjadi, faktor apa yang memengaruhinya, dan prinsip apa yang dapat saya gunakan agar tidak mengulangi pola yang sama."

Inilah proses perubahan dari pengalaman menjadi hikmah. Pengalaman merupakan sesuatu yang terjadi. Pengetahuan merupakan sesuatu yang dipahami dari pengalaman. Sedangkan hikmah merupakan kemampuan menggunakan pemahaman tersebut secara tepat dalam kehidupan.

Dengan demikian:

Pengalaman + Refleksi + Pemahaman + Penerapan = Hikmah.

Orang yang memiliki hikmah tidak hanya memiliki banyak pengalaman. Ia mampu mengolah pengalaman menjadi prinsip kehidupan. Karena itu, dua orang dapat mengalami kejadian yang sama tetapi memperoleh tingkat pembelajaran yang berbeda. Satu orang hanya memperoleh pengalaman. Orang lainnya memperoleh pemahaman. Dan orang yang lebih matang dapat memperoleh hikmah.


Level 9 — Menjadi Sumber Hikmah bagi Orang Lain

Level kesembilan merupakan tingkat tertinggi dalam model ini. Pada tahap ini, pembelajaran tidak lagi berhenti pada kepentingan pribadi. Seseorang menggunakan pengalaman, kesalahan, refleksi, dan hikmah yang diperolehnya untuk membantu orang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak sekadar berkata:

"Saya pernah mengalami itu."

Tetapi mampu menjelaskan:

"Saya pernah mengalaminya, saya memahami apa yang menyebabkan masalah tersebut, dan inilah pelajaran yang dapat membantu Anda menghindarinya."

Pada titik ini, pengalaman pribadi berubah menjadi pengetahuan yang memiliki nilai sosial. Seseorang yang berada pada level ini dapat berperan sebagai mentor, pendidik, pemimpin, pembimbing, atau sumber referensi bagi orang lain.

Hal yang paling menarik adalah bahwa seseorang tidak perlu menjadi manusia yang sempurna untuk memberikan pelajaran. Justru pengalaman menghadapi kesalahan, kegagalan, evaluasi, dan perbaikan dapat menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga bagi orang lain.


Perspektif Islam: Mengambil Pelajaran dari Peristiwa

Konsep belajar dari pengalaman juga memiliki landasan yang sangat kuat dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:


فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Maka ambillah (kejadian itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

QS. Al-Hasyr: 2

Kata فَاعْتَبِرُوا (fa'tabirū) sangat menarik. Maknanya bukan sekadar “lihatlah”, tetapi ambil pelajaran dari suatu peristiwa. Ayat tersebut memberikan sebuah prinsip penting bahwa suatu kejadian tidak seharusnya berhenti sebagai kejadian semata.

Peristiwa perlu diamati, dipahami, dan diambil pelajarannya. Dengan perspektif tersebut, seseorang tidak harus mengalami seluruh kesalahan untuk memperoleh pembelajaran. Ia dapat melihat apa yang terjadi pada dirinya, melihat pengalaman orang lain, memahami konsekuensinya, kemudian mengambil 'ibrah atau pelajaran. Pada titik inilah konsep pembelajaran berkembang dari sekadar mengalami menjadi mengambil pelajaran dari pengalaman.




Bacaan untuk Ditelaah

1. Al-Qur'an, QS. Al-Hasyr: 2.

2. Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Prentice-Hall.

3. Schön, D. A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action. Basic Books.

4. Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development. Prentice-Hall.


Aji Mumpung

 AJI MUMPUNG - Opportunistic Behavior

Fenomena perubahan dari idealisme ke oportunisme materialis, atau sebaliknya, merupakan proses manusiawi yang kompleks. Islam memandangnya sebagai Ujian dan Peluang Perbaikan Diri, sementara penelitian ilmiah melihatnya sebagai respons adaptif dan pencarian makna hidup.

Pembahasan perubahan pendirian manusia dari idealis menjadi oportunis materialis sering dikaitkan dengan kemiskinan dan tekanan hidup. Namun, fakta empiris juga menunjukkan bahwa individu yang telah kaya dan berkuasa justru kerap terlibat dalam praktik korupsi. 

Penelitian ilmiah modern. menunjukkan bahwa akumulasi kekayaan dan kekuasaan tanpa pengendalian moral cenderung memperbesar peluang penyimpangan etis, bukan menguranginya.

The Greed Paradox adalah konsep dalam ekonomi perilaku dan psikologi moral yang menjelaskan paradoks berikut: Semakin banyak yang dimiliki seseorang, semakin besar pula keinginannya bukan semakin puas.

Sinyalemen ini ada dalam haditsnya:

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048) 

Kelapangan hidup dan kekayaan merupakan ujian yang lebih berat dibanding kemiskinan, karena ia menumbuhkan ilusi kemandirian, memperluas godaan, dan melemahkan pengawasan moral. Inilah sebabnya Rasulullah lebih khawatir terhadap umat yang kaya tanpa kendali daripada umat yang miskin namun menjaga iman.

Khalid bin Walid

Khalid bin Walid adalah seorang panglima perang yang termasyhur dan ditakuti di medan tempur. Ia mendapat julukan "Pedang Allah yang Terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang karirnya. Berbagai perang beliau lalui:

  • Sebelum masuk Islam, Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Pada saat Perang Uhud, Khalid yang melihat celah kelemahan pasukan Muslimin yang menjadi lemah setelah bernafsu mengambil rampasan perang dan turun dari Bukit Uhud, langsung menghajar pasukan Muslim pada saat itu.
  • Dalam perang Mu’tah yang mempertemukan antara pasukan kaum muslimin yang berjumlah 3000 orang melawan pasukan Romawi yang berjumlah 200 ribu orang, Khalid bin Walid hanya pasukan biasa saja. Saat ketiga panglima yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW mati syahid, Khalid bin Walid langsung mengambil bendera panji Islam dan menyelamatkan kaum muslimin dari pertempuran yang tidak sepadan tersebut. Dalam pertempuran tersebut pasukan Romawi jauh lebih banyak yang meninggal dibandingkan dengan pasukan kaum muslimin.
  • Perang Yarmuk bertujuan untuk membebaskan negeri Syam dari kaum Romawi serta menyebarkan Islam di sana. Pada masa Khalifah Abu Bakar, Khalid bin Walid ditunjuk menjadi panglima pasukan Islam sebanyak 46.000, menghadapi tentara Byzantium, Romawi Timur dengan jumlah pasukan 240.000. Strategi Khalid membagi pasukan Islam menjadi 40 kontingen dari 46.000 dalam menghadapi musuh yang bersenjata lengkap, terlatih dan berjumlah banyak.
  • Perang Riddah (kemenangan perang melawan orang-orang murtad). Perang Riddah ini terjadi karena suku-suku bangsa Arab tidak mau tunduk lagi kepada pemerintahan Abu Bakar di Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Rasulullah, dengan sendirinya batal setelah Rasulullah wafat, sikap keras kepala dan penentangan mereka ini dapat membahayakan agama dan pemerintahan. 

Terdapat sebuah hadits yang mengisahkan Khalid bin Walid yang tidak terpengaruh meski telah meminum racun.  Saat itu tentara Muslim sedang berperang, musuh menempatkan diri mereka di sebuah benteng, menolak untuk menyerah selama berhari-hari. Akhirnya, mereka mengirim seseorang kepada Khalid, menantangnya meminum racun dan bersedia menyerah jika dia tetap aman.  Khalid menerima tantangan itu dan meminumnya, dan tidak ada yang terjadi padanya. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, itu adalah mukjizat atau rahmat ( karamah ) yang dia lakukan untuk menunjukkan kebenaran Islam.  

Khalid bin Walid memang sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Tidak sombong dan lapang dada walaupun berada dalam puncak popularitas. Hal ini ditunjukkannya saat Khalifah Umar bin Khathab mencopot sementara waktu kepemimpinannya tanpa ada kesalahan apa pun. Menariknya, ia menuntaskan perang dengan begitu sempurna. Setelah sukses, kepemimpinan pun ia serahkan kepada penggantinya, Abu Ubaidah bin Jarrah.

Sampai pada akhirnya Khalid pun wafat, dan tidak dalam keadaan berperang. Sebelum meninggal, Khalid bin Walid  berkata di atas tempat tidurnya bahwa dia akan meninggal secara wajar.

"Aku telah mengikuti perang ini dan itu, sampai-sampai pada tubuhku tidak ada tempat sejengkal pun melainkan terdapat bekas sayatan pedang, tusukan tombak, dan luka akibat terkena panah. Kini aku akan meninggal di atas tempat tidurku secara wajar, sebagaimana matinya seekor unta. Maka dari itu, mata para pengecut tidak akan terpejam." 


Tags Kompas CNNIndonesia Republika


Inspirasi mencari hidayah Islam dari Gitaris

Hidayah sering berbentuk jamak, yaitu "Hudan" sebagai keutamaan yang diberikan Allah Ta'ala. Semua orang ingin mendapatkan itu karena ia adalah jalan menuju kesuksesan dan kebahagiaan. Juga bisa berarti perlindungan Allah SWT dari masalah yang dihadapi.

Banyak orang berharap mendapatkan hidayah agar dirinya dimudahkan untuk berbuat baik atau dapat konsisten mematuhi perintah Allah SWT. Tentunya mereka perlu berusaha agar mendapat hidayah tersebut. Janji Allah SWT:

“Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Ali Imran: 101).

Salah satu cara untuk menggapai atau menguatkan hidayah adalah dengan meyakini secara sepenuhnya ajaran agama yang dianutnya. Salah satunya tentang ke-orisinalitas dan otentiknya suatu ajaran. Apakah ia benar benar bersumber dari Pencipta segala yang ada di dunia ini.  

Kita juga bisa mencari dan mengambil hikmah dari perjalanan religi dari mereka yang memilih kembali kepada Islam, berikut inspirasi yang bisa diambil dari seorang gitaris dalam perjalanan ruhaninya:

John Paul Ivan, gitaris Boomerang, pernah mengalami pencarian spiritual karena baginya beragama harus tahu asal-usulnya. Ia membaca kitab suci agama yang dianutnya saat itu dan membandingkan dengan kitab suci Alquran. Juga menambah literasi dengan membaca buku yang dikarang oleh Ahmad Deedat.

Hal yang dipelajarinya adalah tentang konsep Ketuhanan dan Islam yang mengajarkan tauhid bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang Esa. Ivan memutuskan untuk menjadi mualaf pada 2006, dia datang sendiri ke Masjid Sunda Kelapa, Jakarta. Singles dengan judul Silaturahim merupakan karya Ivan pada Ramadhan di tahun 2016.

John Paul Ivan hanya salah satu contoh dari sekian banyaknya manusia yang bertebaran di muka bumi ini, yang harus mencari jatidiri dan "Keinginan Penciptanya". Tentunya kita berharap agar dimudahkan konsisten dalam Keimanan dan memperbaiki setiap amal kebaikan. 


Tags Republika Islampos Seruni

Menikmati hidup dengan menebar kebaikan

Acap kali keluh kesah datang menghampiri, perasaan pesimis menghadapi kehidupan kadangkala menghantui. Padahal kalau diperturutkan hal tersebut tidak menyelesaikan persoalan, bahkan menutup peluang penyelesaian masalah.

Kalau coba dimaknai kehadiran manusia di bumi inipun merupakan nikmat Penciptanya, hal yang mustahil bagi manusia bahkan alam semesta terjadi secara kebetulan. Dengan merenung sejenak maka kita mencoba mensyukuri nikmat hidup ini dalam kondisi apapun bahwa manusia memang memiliki tujuan atas penciptaannya.

Kenikmatan yang tak hingga pada diri manusia dari Penciptanya, sesungguhnya ia takkan mampu menghitungnya. Sebagai contoh kecil nikmat fisik dari bagian atas hingga ke bawah, dari penglihatan sampai pergerakan kakinya sangat tak ternilai. 

Firman Allah SWT: "Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)". QS. Ibrahim: 34

Kesempatan hidup ini hanya sekali, maka berbuatlah "sesuatu".  Berbuatlah berbagai kebajikan, sekecil apa pun itu. Waktu dan umur yang telah dilewati, takkan pernah kembali. Kita hanya menggoreskan segenap catatan yang akan menjadi pertanggungjawaban kepada Penciptanya atas nikmat hidup yang telah diberikan.

Allah SWT menjadikan dunia ini sebagai ladang menuju akhirat, kesempatan bagi manusia menggunakan dunia untuk menanam apa saja. Jika menanam hal-hal yang buruk, maka hasilnya pun seperti itu juga, buruk dan bisa membahayakan. Namun, apabila yang ditanam berbagai kebaikan, maka akan menghasilkan buah-buah yang baik lagi bermanfaat.

Pahala dan hukuman di akhirat akan ditetapkan atas amalan-amalan yang diperbuat oleh manusia di dunia ini. "Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allâh amat cepat hisabnya" . QS Al-Mu`min :17

Ujian kesusahan dan kenikmatan pun dapat silih berganti untuk memperkuat keimanan dan ketaqwaan manusia. Dengan ujian kesusahan manusia dapat terlatih kesabarannya dan mengupayakan solusinya, sebagaimana setiap ada kesusahan disampingnya berbagai kemudahan. Melalui ujian kenikmatan dan kelapangan, manusia dapat melatih wujud syukur atas karunianya, melatih empati dan membantu saudaranya yang dalam kesusahan.

Akhirnya yang patut diingat atas setiap persoalan yang menimpa adalah perlunya memperkuat rasa optimis. Ibnul Qayyim berkata, "Segala persoalan dalam hidup ini sesungguhnya tidak untuk menguji kekuatan dirimu, tetapi menguji seberapa besar kesungguhanmu dalam meminta pertolongan Allah." Maka dari satu kesulitan hidup, akan ada berbagai solusi dan tawaran kebaikan di depannya.